Minggu, 13 Desember 2015

REFLEKSI
HAKEKAT MENGAJAR

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu: Prof. Marsigit, M.A.






VIVI NURVITASARI
NIM. 15701251012
S2 PEP B




PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

Pendahuluan
Kata mengajar yang dalam istilah Bahasa Inggris disebut dengan “teaching” yang  marupakan suatu aktivitas atau kegiatan yang sering dipahami sebagai kegiatan yang bertujuan untuk transfer of knowledge dan transfer of value. Namun mengajar merupakan proses yang komplek, tidak sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa, banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada siswa. Karena itu banyak terdapat aneka ragam pengertian mengajar, antara lain; menurut M. Ali mengartikan, ”mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang dirumuskan”.
Kegiatan mengajar juga merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti apa yang tercantum dalam teks pembukaan UUD 1945. Atas dasar tersebutlah negara Indonesia berusaha keras dalam meningkatkan dan memperbaiki kegiatan mengajar yang masih cenderung kurang maksimal. Kegiatan mengajar sangatlah mempengaruhi kualitas SDM yang nantinya akan menjadi generasi yang dapat membangun suatu bangsa menuju ke arah yang lebih maju dan berkembang lagi.
Pentingnya kegiatan mengajar tersebutlah menyadarkan para guru untuk selalu meningkatkan kualitas dan kuantitasnya dalam melakukan kegiatan mengajar. Guru dituntut untuk selalu kritis dalam menghadapi perkembangan dunia agar dapat memberikan solusi bagaimana mempersiapkan peserta didik yang nantinya dapat siap untuk menghadapi perkembangan dunia dimasa yang akan datang. Kegiatan mengajar perlu untuk mengetahui beberapa kebutuhan dan keinginan siswa, sehingga dalam melakukan kegiatan mengajar, guru tidak hanya fokus pada pelaksanaan atau prakteknya saja namun guru juga harus memperhatikan apakah cara mengajar guru tersebut sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan siswa dan dapat digunakan sebagai cara untuk mencapai tujuan dari kegiatan mengajar itu sendiri.
Oleh karena hal tersebut, timbul suatu permasalahan yang kompleks dalam kegiatan mengajar, yaitu teori mengajar yang seperti apakah yang dapat diaplikasikan secara efektif dan efisien sehingga akan dapat membantu guru mencapai tujuannya dalam mengajar. Dalam artikel ini akan dibahas tentang beberapa teori mengajar yang meliputi: mentransfer pengetahuan, memotivasi secara eksternal, memotivasi secara internal, mengkonstruksi pengetahuan, berdiskusi, menginvestigasi, mengembangkan, memberikan penjelasan. Semua teori mengajar tersebut akan disertai dengan contoh penerapan dalam kegiatan mengajar Bahasa Inggris.
1.      Teori transfer pengetahuan
Mengajar adalah transfer pengetahuan (transfer of knowledge). Mengajar berarti membagi atau menyampaikan ilmu pengetahuan atau keterampilan dan lain sebagainya kepada orang lain, dengan menggunakan cara-cara tertentu sehingga ilmu-ilmu tersebut bisa menjadi milik orang lain. Dari pengertian diatas dapat diuraikan bahwa mengajar merupakan suatu kegiatan atau aktivitas yang ditujukan untuk membagi atau memberikan pengetahuan yang telah dimiliki kepada orang lain yaitu peserta didik. Dalam penyampaian ilmu pengetahuan tersebut, guru dapat menggunakan berbagai cara, media, aktivitas, strategi, metode pembelajaran dan pengajaran yang dapat secara efektif mendukung penyampaian ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada siswa.
Dalam contoh penerapan mengajar Bahasa Inggris, guru dapat menjelaskan materi tentang Grammar dengan cara metode ceramah yang disertai dengan contoh-contoh penggunaan rumus Grammar Bahasa Inggris dalam kalimat.
2.      Teori Motivasi Eksternal
Motivasi eksternal adalah motivasi yang berasal dari luar diri yang bersifat sementara. Motivasi yang berasal dari luar tersebutlah yang merupakan motivasi yang siswa dapatkan dari guru. Dalam hal ini, guru dituntut untuk dapat memberikan motivasi yang bersifat positif bagi siswa sehingga siswa dapat termotivasi untuk memperbaiki dan juga meningkatkan prestasinya. Adanya motivasi dari guru tersebut dapat membuktikan bahwa perlunya dan pentingnya suatu interaksi yang positif antara guru dengan siswa yang saling memberikan pengaruh positif dalam hal pembelajaran dan pengajaran. Dari penjelasan diatas, didapatkan contoh dalam penerapan mengajar Bahasa Inggris bahwa guru dapat memberikan suatu pujian positif kepada siswa yang dapat mengerjakan tugas Bahasa Inggris dengan baik. Hal tersebut ditujukan agar siswa yang lain dapat termotivasi untuk lebih giat dalam belajar sehingga siswa yang lain juga mampu untuk mendapatkan nilai tugas yang baik seperti apa yang didapatkan siswa tersebut.
3.      Teori Motivasi Internal
Motivasi internal merupakan motivasi yang berasal dari dalam individu itu sendiri. Bagaimana seorang individu tersebut dapat mendorong dirinya sendiri untuk bertindak dalam hal yang positif sehingga akan membantu meningkatkan keproduktifan individu tersebut. Dalam hal tersebut peran siswa itu sendiri sangat berperan aktif, namun lingkungan sekitar dan orang-orang sekitar juga ikut andil dalam hal menumbuhkan motivasi internal tersebut. Karena apabila lingkungan dapat mendukung dengan baik, maka dari dalam individu tersebut juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendukung siswa dalam belajar.
Penerapan teori pemberian motivasi internal tersebut sangat dipengaruhi dengan adanya pemeberian motivasi secara eksternal oleh guru kepada siswa. Dalam penerapan teori motivasi eksternal sebelumnya, guru memberikan motivasi eksternal pada siswa dengan memberikan pujian pada seorang siswa yang mendapatkan nilai bagus, pujian itu sebenarnya tidak hanya ditujukan pada siswa tersebut namun juga secara tidak langsung ditujukan pada semua siswa agar siswa lainnya termotivasi seperti siswa yang telah mendapatkan nilai bagus tersebut. Jadi antara motivasi eksternal dan internal sangat berpengaruh satu sama lain, adanya motivasi eksternal dari guru, orang tua, dan lingkungan sekitar akan mendukung munculnya motivasi internal dari dalam diri siswa.
4.      Teori Konstruksi Pengetahuan
Konstruksi pengetahuan merupakan cara seorang individu secara mandiri mendapatkan ilmu pengetahuan dari setiap pengalaman hidupnya. Bagaimana seorang individu memaknai setiap pengalamannya sebagai bekal atau dasar bagi individu untuk mendapatkan suatu ilmu pengetahuan. Teori konstruksi pengetahuan ini memotivasi siswa untuk secara aktif dan mandiri mencari sumber belajarnya sendiri dan mengkonstruksi setiap informasi yang dia dapatkan dari setiap pengalamannya untuk disinthesiskan menjadi suatu ilmu pengetahuan baru. Dalam aplikasinya, teori konstruktif ini juga mendukung siswa untuk berpikir secara kritis tentang suatu ilmu pengetahuan yang baru ia dapatkan. Dalam pengaplikasiannya, guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa saja. Penerapan teori ini dalam pengajaran Bahasa Inggris adalah dengan cara guru memberikan suatu topik pembelajaran pada siswa misalnya tentang “Narrative text”, kemudian guru memberikan fasilitas berupa akses internet untuk siswa agar dapat mencari sumber-sumber informasi tentang materi tersebut. Guru juga meminta siswa untuk membuat ringkasan dari apa yang siswa dapatkan tentang materi tersebut, kemudian guru meminta siswa untuk menjelaskan tentang uraian materi tersebut.
5.      Teori Diskusi
Istilah metode berasal dari kata yunani “Metha” dan “Hodos”. Metha diartikan melalui atau melewati dan hodos berarti jalan atau cara. Sedangkan diskusi adalah kata yang berasal dari bahasa Latin yaitu “discussus” yang mempunyai arti memeriksa dan menyelidiki. Pengertian Metode Diskusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan metode diskusi adalah : “Cara belajar atau mengajar yang melakukan tukar pikiran antara murid dengan guru, murid dengan murid sebagai peserta diskusi (http://masnibios.blogspot.co.id).
Diskusi merupakan teori mengajar yang dapat meningkatkan siswa dalam berpikir kritis dengan bersama-sama bertukar pendapat mencari solusi pemecahan masalah yang terbaik dan yang efektif. Diskusi ini dapat membuat siswa berani dalam mengutarakan pendapat mereka masing-masing secara aktif dan percaya diri juga bertanggung jawab atas apa yang ia utarakan tersebut. Dalam pengaplikasian teori diskusi ini guru tetap sebagai pemandu yang berperan penting dalam hal memfasilitasi siswa dengan memberikan suatu masalah dan memotivasi siswa untuk saling bertukar pikiran dan pendapat untuk memecahkan masalah tersebut.
Penerapan teori ini dalam pengajaran Bahasa Inggris adalah guru memberikan 1 pertanyaan pada beberapa kelompok yang telah ditentukan dan dibagi dan kemudian meminta setiap kelompok untuk mendiskusikan pertanyaan tersebut untuk mencari dan mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut.
6.      Teori Investigasi
Investigasi merupakan teori pengajaran yang hampir sama dengan teori mengajar diskusi. Namun bedanya terletak pada adanya suatu aktivitas siswa untuk mengkroscek kebenaran suatu jawaban dari pemecahan masalah. Siswa juga harus membandingkan solusi atau jawaban dari suatu masalah dan pertanyaan yang telah mereka dapatkan pada siswa yang lainnya sehingga antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dapat melakukan kroscek informasi secara benar. Dalam hal ini guru berperan sebagai motivator dan juga fasilitator. Sebagai fasilitator guru menyediakan sumber-sumber yang dibutuhkan siswa dalam mengembangkan suatu jawaban dari pertanyaan atau suatu solusi dari sebuah masalah yang ada, sehingga siswa dapat memilih sendiri sumber mana yang harus dia pilih yang efektif dapat membantu siswa dalam mencari solusi jawaban dari suatu masalah.
Penerapan dalam mengajar adalah guru meminta ssiswa untuk mencari topik atau materi pembelajaran dan meminta siswa untuk membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan tersebut denagn dibantu sumber-sumber belajar yang disediakan oleh guru dan kemudian meminta siswa untuk melakukan investigasi dengan siswa yang lainnya atas hasil dari jawaban yang mereka telah temukan. Selanjutnya guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil temuan dan hasil investigasi terhadap suatu masalah dan pemecahannya tersebut.
7.      Teori Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam dirinya. Pertumbuhan cenderung dikategorikan atau dilihat pada bertambahnya tinggi badan, bertambah besarnya ukuran badan, dst. Sedangkan perkembangan dapat meliputi perkembangan kognitif dan perilaku. Ada 4 tahap dalam perkembangan kognitif menurut Jean Piaget, yaitu:
a.       Tahap sensori-motor (0-2 tahun)
Dalam tahap ini intelegensi yang dimiliki anak itu masih primitive tapi sebenarnya itu adalah intelegensi yang sangat berarti karena ia menjadi pondasi pada tipe-tipe intelegensi yang akan dimiliki kelak. Dan pada tahap ini anak berinteraksi dengan lingkungan termasuk orang tuanya yang dikembangkan melalui sentuhan dan gerakan.
b.      Tahap pra-operasional (2-7 tahun)
Dalam tahap ini intelegensi itu dapat berkembang dengan adanya penguasaan yang sempurna mengenai objek permanence yang telah dimiliki oleh anak. Dan pada tahap ini anak tidak hanya ditentukan oleh indrawi saja tapi juga pada intuisi. Anak mampu menyimpan kata dan menggunakannya.
c.       Tahap konkrit-operasional (7-11 tahun)
Dalam tahap ini cara berfikir anak yang bersifat konkrit menyebabkan mereka belum mampu menangkap yang abstrak atau melakukan abstraksi tentang sesuatu yang konkrit dan pada tahap ini anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkrit dan mulai berkembang rasa ingin tahu.
d. Tahap formal-operasional (11 tahun keatas)
Dalam tahap ini anak dirasa sudah dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran konkrit operasional sehingga mampu mewujudkan sesuatu dalam pekerjaan yang merupakan hasil berfikir logis. 
(http://pandidikan.blogspot.co.id/2010/05/teori-belajar-jean-peaget-kognitif.html)
Dalam penerapan teori perkembangan dalam mengajar adalah, guru harus menyesuaikan antara materi dan aktivitas terhadap tahap perkembangan yang sedang dilalui siswa saat ini. Ketika guru Bahasa Inggris mengajar siswa SD, maka guru harus mencari materi dan aktivitas yang sesuai dengan tahap perkembangan yang terjadi pada siswa SD. Sehingga kegiatan belajar dan mengajar dapat berlangsung secara efektif, dan dapat mencapai tujuan dari mengajar tersebut.
8.      Teori Ekspositori
Teori mengajar ekspositori atau teori mengajar dengan cara memberikan penjelasan ini merupakan teori yang mementingkan tentang bagaimana materi dapat tersampaikan kepada siswa secara verbal. Dalam teori mengajar ini, guru bertujuan untuk menyampaikan materi kepada siswa sampai siswa dianggap mengerti tentang topik bahasan yang disampaikan guru. Untuk memperkuat pemahaman siswa, guru dapat menyertakan contoh-contoh sehingga siswa akan lebih mudah memahami materi tersebut.
Penerapan dalam mengajar Bahasa Inggris adalah, guru menyampaikan materi Grammar kepada siswa dengan disertai definisi dan contoh-contoh konkret dari setiap pengaplikasian rumus grammar tersebut.

REFERENSI
http://subliyanto.blogspot.co.id/2011/04/hakikat-mengajar.html. Diakses pada tanggal 2 Desember 2015 pada pukul 18.30
http://ikawardani-ikawardani.blogspot.co.id/2011/11/pengertian-pendidikan.html. Diakses pada tanggal 2 Desember 2015 pada pukul 19.45
http://masnibios.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 3 Desember 2015 pada pukul 04.45
http://pandidikan.blogspot.co.id/2010/05/teori-belajar-jean-peaget-kognitif.html. Diakses pada tanggal 3 Desember 2015 pada pukul 18.45