Minggu, 29 November 2015

SELARAS DALAM OLAH HATI DAN OLAH PIKIR (Refleksi Hidup Menurut Fenomena Compte)

SELARAS DALAM OLAH HATI DAN OLAH PIKIR
(REFLEKSI HIDUP MENURUT FENOMENA COMPTE)
Oleh: Vivi Nurvitasari (1570125102)

Refleksi Hidup Dalam Rangka Memenuhi Tugas Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A
(Kamis, 19 November 2015)

Pertama kali saya mendengar tentang filsuf Auguste Compte dari Bapak Marsigit pada perkuliahan Filsafat Ilmu di ruang 306A Prodi PEP Kelas B yang dilaksanakan setiap Hari Kamis pukul 07.30-09.10. Auguste Compte merupakan sosok filosof besar pencetus aliran Positivisme, yaitu sebuah aliran filsafat Barat yang timbul pada abad-19 dan merupakan kelanjutan dari Empirisme.
Positivisme yang menandai krisis-krisis di barat itu sebenarnya marupakan salah satu dari sekian banyak aliran-aliran filsafat di barat, meski dalam beberapa segi mengandung kebaruan namun pandangan ini bukan merupakan suatu hal yang sama sekali baru, karena pada masa sebelumnya Kant sudah berkembang dengan pendangannya mengenai empirisme yang dalam beberapa segi berkesesuaian dengan positivisme.
Adapun yang menjadi  tititk tolak dari pemikiran positivis ini adalah apa yang telah diketahui adalah yang faktual dan positif, sehingga metafisika ditolaknya. Di sini, yang dimaksud dengan “positif” adalah segala gejala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman obyektif. Jadi, setelah fakta diperoleh, fakta-fakta tersebut diatur sedemikian rupa agar dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.
Menurut Compte dan juga para penganut aliran positivisme,  ilmu pengetahuan tidak boleh melebihi fakta-fakta karena positivisme menolak metafisisme. Bagi Compte, menanyakan hakekat benda-benda atau penyebab yang sebenarnya tidaklah mempunyai arti apapun. Oleh karenanya, ilmu pengetahuan dan juga filsafat hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta. Dengan demikian, kaum positivis membatasi dunia pada hal-hal yang bisa dilihat, diukur, dianalisa dan yang dapat dibuktikan kebenarannya.
Dengan model pemikiran seperti ini, kemudian Auguste Compte mencoba mengembangkan positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari aliran ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi, yang dikenal dengan Materialisme.
Selanjutnya, karena agama (Tuhan) tidak bisa dilihat, diukur dan dianalisa serta dibuktikan, maka agama tidak mempunyai arti dan faedah. Compte berpendapat bahwa suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu sesuai dengan fakta. Sebaliknya, sebuah pernyataan akan dianggap salah apabila tidak sesuai dengan data empiris. Contoh misalnya pernyataan bahwa api tidak membakar. Model pemikiran ini dalam epistemologi disebut dengan teori Korespondensi.
Keberadaan (existence) sebagai masalah sentral bagi perolehan pengetahuan, mendapat bentuk khusus bagi Positivisme Compte yakni sebagai suatu yang jelas dan pasti sesuai dengan makna yang terkandung di dalam kata "positif". Kata nyata (riil) dalam kaitannya dengan positif bagi suatu objek pengetahuan, menunjuk kepada hal yang dapat dijangkau atau tidak dapat dijangkau oleh akal. Adapun yang dapat dijangkau oleh akal dapat dijadikan sebagai objek ilmiah sedangkan sebaliknya yang tidak dapat dijangkau oleh akal, maka tidak dapat dijadikan sebagai objek ilmiah. Kebenaran bagi Positivisme Compte selalu bersifat riil dan pragmatik artinya nyata dan dikaitkan dengan kemanfaatan dan nantinya berujung kepada penataan atau penertiban. Oleh karenanya, selanjutnya Compte beranggapan bahwa pengetahuan yang demikian itu tidak bersumber dari otoritas misalnya bersumber dari kitab suci, atau penalaran metafisik (sumber tidak langsung), melainkan bersumber dari pengetahuan langsung terhadap suatu objek secara indrawi.
Filsafat positivisme Compte juga disebut sebagai faham empirisme-kritis, bahwa pengamatan dengan teori berjalan seiring. Bagi Compte pengamatan tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori dan pengamatan juga tidak mungkin dilakukan secara “terisolasi”, dalam arti harus dikaitkan dengan suatu teori. (http://lauraerawardani.blogspot.co.id/2014/04/positivisme-august-comte-serta-fakta.html)
Pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia menyempurnakan empirisme dan rasionalisme. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris yang terukur. “Terukur” inilah sumbangan penting positivisme. Misalnya, hal panas. Positivisme mengatakan bahwa air mendidih adalah 100 derajat celcius, besi mendidih 1000 derajat celcius, dan yang lainnya misalnya tentang ukuran meter, ton, dan seterusnya.
Pada intinya, positivisme tidak hanya menggunakan metode rasionalisme saja atau empirisme saja, tetapi menggabungkan keduanya dengan cara melihat gejala yang fakta dan nampak lalu merasionalkannya dengan mencoba meramalkan gejala yang akan terjadi setelahnya. Contohnya hari ini langit mendung, itu adalah bagian dari empirisme, lalu diperkirakan sebentar lagi akan turun hujan, itu merupakan bagian dari rasionalisme. Jadi ide positivisme di sini adalah berpatokan pada gejala yang telah nampak.
Menurut Compte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 tahap atau 3 zaman, yaitu zaman teologis, zaman metafisis, dan zaman ilmiah atau zaman positif.
1.     Tahap Teologis
Pada zaman atau tahap teologis orang mengarahkan rohnya kepada hakekat batiniah segala sesuatu. Jadi orang masih percaya kepada kemungkinan adanya pengetahuan yang mutlak. Oleh karena itu orang berusaha memilikinya. Orang yakin, bahwa di belakang tiap kejadian tersirat suatu pernyataan kehendak yang secara khusus. Pada tahap ini terdapat 3 tahap lagi, yaitu: a) tahap yang paling bersahaja atau primitif, ketika orang menganggap, bahwa segala benda berjiwa (animisme); b) tahap ketika orang menurunkan kelompok-kelompok hal-hal tertentu seluruhnya masing-masing diturunkannya dari suatu kekuatan adikodrati yang melatarbelakanginya, sedemikian rupa, sehingga tiap kawasan gejala-gejala memiliki dewa-dewanya sendiri (politeisme); c) tahap yang tertinggi, ketika orang mengganti dewa yang bermacam-macam itu dengan satu tokoh tertinggi, yaitu dalam monoteisme.
2.  Tahap Metafisik
Zaman yang kedua, yaitu zaman metafisika, sebenarnya hanya mewujudkan suatu perubahan saja dari zaman teologis. Sebab kekuatan-kekuatan yang adikodrati atau dewa-dewa hanya diganti dengan kekuatan-kekuatan yang abstrak, dengan pengertian-pengertian atau dengan pengada-pengada yang lahiriah yang kemudian dipersatukan dengan sesuatu yang bersifat umum yang disebut alam dan yang dipandang sebagai asal segala penampakan atau gejala yang khusus.
3. Tahap Positif
Zaman positif adalah zaman ketika orang tahu bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologis, maupun pengenalan metafisis. Ia tidak lagi mau melacak hakekat yang sejati dari segala sesuatu yang berada di belakang segala sesuatu. Sekarang orang berusaha menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta yang telah dikenal atau disajikan padanya, yaitu dengan pengamatan dan dengan memakai akalnya. Pada zaman ini pengertian “menerangkan” berarti: fakta-fakta yang khusus dihubungkan dengan dengan suatu fakta yang umum. Tujuan tertinggi dari zaman ini akan tercapai bilamana segala gejala telah dapat disusun dan diatur di bawah satu fakta yang umum saja.
     Hukum 3 zaman atau 3 tahap di atas bukan hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, tetapi juga berlaku bagi tiap orang sendiri-sendiri. Contoh praktisnya adalah dalam pelajaran matematika sebuah rumus bagi anak-anak hanya dijadikan sebuah teori dan tidak ada usaha untuk mengkritisinya atau mempraktekannya. Ketika remaja dia sudah mulai mengkritisi dan mempraktekannya dan mempunyai gambaran-gambaran atau abstraksi metafisik tentang rumus tersebut. Dan ketika sudah dewasa dia telah menemukan hasil dari nilai praktis rumus tersebut.
   Dalam refleksi hidup sekarang ini masih banyak yang cenderung mempraktikkan pemikiran-pemikiran dari Compte. Misalnya saja dalam dunia pendidikan, adanya kurikulum baru yaitu Kurikulum 2013 merupakan hasil dari pemikiran Compte tentang positivisme atau saintifik. Dalam Kurikulum 2013, metode yang cenderung digunakan adalah metode saintifik yang menekankan pada eksperimen, menguji suatu kebenaran secara empiris lalu merasionalkannya dengan melakukan olah pikir. Seperti yang disebutkan diatas bahwa positivisme tidak hanya berhubungan dengan empirisme saja namun juga berhubungan dengan rasionalitas. Maka positivisme itu hanya mempelajari hal-hal atau sesuatu yang nampak atau nyata oleh karena itu suatu metode saintifik juga hanya bisa digunakan untuk menguji fenomena atau hal yang nampak atau nyata dalam kehidupan sehari-hari.
     Karena positivisme lebih menekankan pada hal-hal yang nampak yang bersifat empriris juga rasionalisme, maka Compte juga berpendapat bahwa spiritualitas atau agama dan yang berkaitan dengan Tuhan itu tidaklah menjadi hal yang penting sehingga menganggap bahwa ibadah itu tidaklah penting. Seperti apa yang Pak Marsigit sampaikan dalam perkuliahan bahwa ketika seseorang mempunyai hp atau gadget baru, maka seseorang tersebut akan fokus pada gadget barunya dan akan melupakan atau bahkan meninggalkan ibadah sholat. Fenomena tersebut mencerminkan bahwa sebagai manusia kita terlalu jauh dari rasa syukur, rendah hati dan juga keikhlasan hati. Sehingga hal tersebut menjadi urgensi bagi kita untuk mempelajari Filsafat Ilmu, agar kita selalu menyadari tentang kekurangan dan keterbatasan kita dan mampu untuk mensyukuri atas apa yang ada. sehingga dari rasa syukur tersebut akan muncul suatu keikhlasan hati untuk selalu beribadah mendekatkan diri pada Allah.
     Oleh karenanya kita sebagai manusia yang masih jauh dari kesempurnaan perlu adanya membangun sebuah konsep hidup yang seimbang dan selaras antara olah hati yang didasari oleh spiritualitas dan juga olah pikir yang didasari dengan ilmu pengetahuan.